KPLC – Kemang Pregnancy and Lactation Care

Ayah dan Baby Blues Syndrome

Posted on: Juni 29, 2010

Satu dari Sepuluh Ayah Mengalami Baby Blues

Ibu muda yang baru melahirkan rentan terkena sindrom baby blues.
Sindrom ini biasanya terjadi pada pasangan muda yang memiliki anak
pertama. Ini adalah depresi yang biasanya terjadi karena ketidaksiapan
mental menghadapi kehadiran bayi dalam kehidupan mereka. Penelitian
menunjukkan bahwa satu dari lima ibu mengalami sindrom baby blues.

Namun yang mengejutkan adalah penelitian terbaru yang dipublikasikan
dalam Journal of the American Medical Association, yang mengungkapkan
bahwa ayah juga mengalami sindrom ini.
Penelitian yang dilakukan James Paulson bersama koleganya pada 28.004
koresponden itu memaparkan, satu dari sepuluh ayah mengalami depresi
baby blues.Yang lebih mengejutkan, 25 persen dari jumlah itu terus
mengalami depresi hingga bayi mereka berusia enam bulan.

“Ada hubungan yang konsisten antara depresi ayah dan depresi ibu,”kata
James Paulson, psikolog klinis dan kepala peneliti dari Sekolah
Kesehatan Virginia Timur di Norfolk, Amerika Serikat. Depresi pada ibu
dapat menyebabkan depresi pada ayah. Selama itu pula, menurut Paulson,
sang ayah memiliki ciri depresi tersendiri.
“Yaitu cenderung lebih sensitif, dan gampang marah karena emosi.”

Kelakuan sang ayah diperkirakan akan lebih berpengaruh negatif terhadap
si jabang bayi.”Penelitian ini menunjukkan bahwa masalah tersebut selama
ini kurang diperhatikan,” ujar Dr Lucy Puryear, psikiater asal Houston
yang sering menangani depresi setelah melahirkan. Dalam 15 tahun
kariernya, dia pernah menangani pasien seorang ayah yang mengalami
sindrom baby blues dan memiliki “pikiran menakutkan”untuk menjatuhkan
sang bayi dari tangga.

Menurut Puryear, memiliki bayi adalah transisi psikologi luar biasa yang
dapat membawa kebahagiaan dan juga stres yang, bila di biarkan, akan
menjadi depresi. Di sisi lain, Puryear menambahkan, ayah sering merasa
sendirian, kehilangan dukungan istri yang sakit setelah melahirkan.
Mereka juga khawatir akan bayi mereka.
Lelaki merasa seluruh beban ada di pundak mereka. “Lelaki yang memiliki
istri yang baby blues juga akan rentan mengalami baby blues,”ujar Puryear.

Terapis asal Houston, Sherry Duson, mengatakan, ayah pada usia
pertengahan 40 tahun biasanya akan lebih stres saat bekerja.
“Karena khawatir akan kondisi keuangan,” kata Duson, yang telah
menangani kasus depresi pada ayah dalam beberapa tahun terakhir. Menurut
Duson, kebanyakan lelaki tidak membicarakan masalah ini.”Ada stigma
sosial yang melarang lelaki mencari pertolongan.” Padahal para ayah yang
mengalami baby blues harus membicarakan hal ini atau mencari kelompok
pendukung.

Untuk mengatasi persoalan ini, Aschinfina Handayani, psikolog Indonesia,
mengatakan, pola komunikasi dua arah antara ayah dan ibu dalam mengurus
bayi yang baru lahir amat diperlukan.
“Baik suami maupun istri harus saling memberikan dukungan dengan belaian
lembut, pelukan hangat, atau ucapan yang menyenangkan,”kata Aschinfina.

Ibu sangat membutuhkan dukungan ayah selama masa menyusui.”ASI bisa
tidak keluar bila ibu stres,” tuturnya. Sementara itu, si ayah, yang
sepanjang hari bekerja dan memikirkan ekonomi keluarga, tentu akan
merasa terganggu oleh tangisan anak pada malam hari dan perhatian istri
yang berkurang.

1 Response to "Ayah dan Baby Blues Syndrome"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: