KPLC – Kemang Pregnancy and Lactation Care

Kehamilan dan HIV

Posted on: Juni 30, 2010

Kehamilan dan HIV

HIV, virus penyebab AIDS, dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya. Tanpa upaya pencegahan, kurang-lebih 30 persen bayi dari ibu yang terinfeksi HIV menjadi tertular juga.

Ibu dengan viral load tinggi lebih mungkin menularkan HIV kepada bayinya. Namun tidak ada jumlah viral load yang cukup rendah untuk dianggap “aman”. Infeksi dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, namun biasanya terjadi beberapa saat sebelum atau selama persalinan. Bayi lebih mungkin terinfeksi bila proses persalinan berlangsung lama. Selama persalinan, bayi yang baru lahir terpajan darah ibunya. Meminum air susu dari ibu yang terinfeksi dapat juga mengakibatkan infeksi pada si bayi. Ibu yang HIV-positif sebaiknya tidak memberi ASI kepada bayinya. Untuk mengurangi resiko infeksi ketika sang ayah HIV-positif, banyak pasangan yang menggunakan pencucian sperma dan inseminasi buatan.

Bagaimana penularan HIV dari ibu-ke-bayi dapat dicegah?

Ibu HIV-positif dapat mengurangi resiko bayinya tertular dengan:

* Mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV)
* Proses kelahiran yang tidak terlalu lama
* Hindari menyusui

Penggunaan ARV: Risiko penularan sangat rendah bila terapi ARV (ART) dipakai. Angka penularan hanya 1-2 persen bila ibu memakai ART. Angka ini kurang-lebih 4 persen bila ibu memakai AZT selama enam bulan terahkir kehamilannya dan bayinya diberikan AZT selama enam minggu pertama hidupnya.

Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia melahirkan, ada dua cara yang dapat mengurangi separuh penularan ini.

* AZT dan 3TC dipakai selama waktu persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir.
* Satu tablet nevirapine pada saat mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 2-3 hari setelah lahir.

Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen. Namun, resistansi terhadap nevirapine dapat muncul hingga 20 persen pada perempuan yang memakai satu tablet waktu hamil. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu. Resistensi ini juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui. Walaupun begitu, terapi jangka pendek ini lebih terjangkau di negara berkembang.

Proses kelahiran yang tidak terlalu lama: Semakin lama proses kelahiran, semakin besar risiko penularan. Bila si ibu memakai AZT dan mempunyai viral load di bawah 1000, risiko hampir nol. Ibu dengan viral load tinggi dapat mengurangi risiko dengan memakai bedah Sesar.

Menghindari menyusui: Kurang-lebih 14 persen bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi. Risiko ini dapat dihindari jika bayinya diberi pengganti ASI (PASI, atau formula).

Namun jika PASI tidak diberi secara benar, risiko lain pada bayinya menjadi semakin tinggi. Jika formula tidak bisa dilarut dengan air bersih, atau masalah biaya menyebabkan jumlah formula yang diberikan tidak cukup, lebih baik bayi disusui.

Yang terburuk adalah campuran ASI dan PASI. Mungkin cara paling cocok untuk sebagian besar ibu di Indonesia adalah menyusui secara eksklusif (tidak campur dengan PASI) selama 3-4 bulan pertama, kemudian diganti dengan formula secara eksklusif (tidak campur dengan ASI).

Bagaimana kita tahu jika bayi terinfeksi?

Jika dites HIV, sebagian besar bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV-positif menunjukkan hasil positif. Ini berarti ada antibodi terhadap HIV dalam darahnya. Namun bayi menerima antibodi dari ibunya, agar melindunginya sehingga sistem kekebalan tubuhnya terbentuk penuh. Jadi hasil tes positif pada awal hidup bukan berarti si bayi terinfeksi.

Jika bayi ternyata terinfeksi, sistem kekebalan tubuhnya akan membentuk antibodi terhadap HIV, dan tes HIV akan terus-menerus menunjukkan hasil positif. Jika bayi tidak terinfeksi, antibodi dari ibu akan hilang sehingga hasil tes menjadi negatif setelah kurang-lebih 6-12 bulan.

Sebuah tes lain, serupa dengan tes viral load dapat dipakai untuk menentukan apakah bayi terinfeksi, biasanya beberapa minggu setelah lahir. Tes ini, mencari virus bukan antibody. Saat ini hanya tersedia di Jakarta, dan harganya cukup mahal.

Bagaimana mengenai kesehatan ibu?

Penelitian baru menunjukkan bahwa perempuan HIV-positif yang hamil tidak menjadi lebih sakit dibandingkan yang tidak hamil. Ini berarti menjadi hamil tidak mempengaruhi kesehatan perempuan HIV-positif.

Namun, terapi jangka pendek untuk mencegah penularan pada bayi bukan pilihan terbaik untuk kesehatan ibu. ART adalah pengobatan baku. Jika seorang perempuan hamil hanya memakai obat waktu persalinan, kemungkinan virus dalam tubuhnya akan menjadi resistan terhadap obat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan masalah untuk pengobatan lanjutannya.

Seorang ibu hamil sebaiknya mempertimbangkan semua masalah yang mungkin terjadi terkait ART:

* Jangan memakai ddI bersama dengan d4T dalam ART-nya karena kombinasi ini dapat menimbulkan asidosis laktik dengan angka tinggi.
* Jangan memakai efavirenz atau indinavir selama kehamilan.
* Bila CD4-nya lebih dari 250, jangan mulai memakai nevirapine.

Alasan beberapa dokter mengusulkan perempuan berhenti pengobatannya pada triwulan pertama kehamilan:

* Resiko dosis dilewatkan akibat mual dan muntah selama awal kehamilan, dengan risiko mengembangkan resistansi terhadap obat yang dipakai.
* Risiko obat mengakibatkan anak cacat lahir, yang tertinggi pada triwulan pertama. Tidak ada bukti terjadi cacat lahir, selain dengan efavirenz.
* Para ahli tidak sepakat apakah penggunaan ART menimbulkan risiko lebih tinggi terhadp lahir dini atau bayi lahir dengan berat badan rendah.

Kesimpulan

Seorang perempuan HIV-positif yang menjadi hamil harus memikirkan kesehatan dirinya sendiri dan kesehatan bayinya. Menjadi hamil tampaknya tidak memperburuk kesehatan ibu.

Resiko bayinya terinfeksi HIV waktu lahir dapat hampir dihindari jika perempuan dan bayi yang baru lahir memakai terapi jangka pendek selama persalinan. Namun terapi jangka pendek meningkatkan kemungkinan menimbulkan resistansi terhadap obat yang dipakai. Ini dapat mengurangi keberhasilan terapi untuk ibu dan bayi.

Namun resiko cacat lahir disebabkan obat, lebih tinggi jika obat dipakai pada triwulan pertama. Jika kita memutuskan untuk berhenti memakai beberapa obat selama kehamilan, mungkin hal ini memperburuk kesehatannya. Seorang perempuan yang positif HIV dan mempertimbangkan untuk hamil sebaiknya membahas pilihan pengobatan dengan dokter.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: