KPLC – Kemang Pregnancy and Lactation Care

Aktivitas Seks Saat Hamil

Posted on: Oktober 11, 2013

Melakukan hubungan seks saat hamil, seringkali menjadi kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat ‘menganggu’ janin. Sebenarnya, hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan oleh pasangan.  Penetrasi tidak melukai janin. Karena ia terlindung di dalam rahim berisi air ketuban yang “disegel” dari dunia luar oleh sumbatan lendir pada mulut rahim. Tetapi ada beberapa hal yang perlu dikonsultasikan terlebih dahulu oleh dokter kandungan. Yaitu:

  1. Memastikan bahwa letak plasenta berada pada tempatnya
  2. Tidak ada riwayat keguguran yang berulang pada kehamilan sebelumnya
  3. Tidak ada bercak pendarahan setelah berhubungan seks

Hal yang terjadi ketika hubungan seks dilakukan pada saat kehamilan, biasanya gerakan janin melemah. Ini adalah hal yang normal. Ketika, ibu mengalami orgasme, janin kembali aktif dan jantungnya berdetak lebih cepat. Tentu ini berkaitan dengan faktor hormonal saat berhubungan seks dan kontraksi pada organ sekitar rahim ibu.

Image

Umumnya, selama hamil tiga trimester, ada semacam dinamika khas dalam berhubungan intim. Berikut fase, kondisi dan hal-hal yang harus diperhatikan:

I. Kondisi ibu di Trimester Pertama.

  • Mual dan muntah di pagi, malam atau sepanjang hari.
  • Tubuh lebih lelah dan mulut terasa pahit.
  • Payudara membengkak, puting tegang, nyeri jika disentuh atau diraba.
  • Mengalami perasaan yang tidak biasa, seperti tidak suka melihat suami, sensitif terhadap bau-bauan, kedinginan dan malas mandi, malas berdandan, selalu ingin tidur, dll.
  • Suasana hati cepat berubah, kadang gembira (dan mesra), tiba-tiba bete.
  • Khususnya pada kehamilan pertama, ibu sering cemas terhadap kehamilan, misalnya takut keguguran, takut janin terluka, dan lain-lain.

Efek terhadap hubungan seks:

  • Rasa mual membuat ibu tidak bergairah melakukan apapun-termasuk berhubungan seks. Pada beberapa ibu, rasa mual di malam hari justru mungkin dapat diobati dengan bercinta.
  • Mulut pahit, tidak ingin berciuman atau melakukan seks oral.
  • Payudara sakit, tidak ingin diraba dan tubuh lelah, sehingga enggan bercinta.
  • Sensitif bau-bauan membuat ibu “alergi” aroma tubuh pasangan.
  • Ibu “benci” pada pasangan, tidak mau tidur sekamar-apalagi berhubungan seks.

II. Kondisi ibu di Trimester Kedua

  • Mual-mual mereda, nafsu makan kembali normal.
  • Payudara tidak lagi nyeri dan produksi hormon progesterone meningkat, gairah bercinta bertambah.
  • Akibat hormon kehamilan dan bertambahnya berat badan, pinggul dan payudara lebih berisi, aerola dan putting lebih gelap, rambut dan kulit “bercahaya.” Ibu lebih percaya diri di ranjang
  • Suasana hati ibu lebih baik.

Efek terhadap hubungan seks:

  • Bercinta terasa lebih menyenangkan karena selesai melakukan “diet” atau “puasa” selama trimester pertama.
  • Lebih mudah orgasme-bahkan orgasme ganda. Ini karena meningkatnya hormone estrogen dan volume darah di tubuh bertambah sehingga lebih banyak  darah mengalir ke panggul dan organ kelamin. Bibir vagina dan klitoris membesar sehingga ujung-ujung sarafnya super sensitif.
  • Banyaknya aliran darah ke vagina menyebabkan perubahan suasana vagina. Lubrikasi cepat dan memudahkan penetrasi, tapi jika terlalu “licin” dapat membuat penis sulit mempertahankan ereksi.

III. Kondisi ibu Pada Trimester Ketiga

  • Ketika usia kehamilan semakin tua, gairah seksual biasanya berangsur surut kembali.
  • Perut kian buncit, membatasi gerakan atau posisi nyaman berhubungan intim.
  • Semakin mudah lelah dan napas pendek. Kelenjar susu aktif, ASI menetes jika dirangsang.
  • Janin semakin besar dan aktif. Pada malam hari gerakannya makin terasa.
  • Perut besar, kaki bengkak dan wajah sembab mungkin membuat Anda merasa tidak menggairahkan lagi di mata pasangan. Perasaan itu diperkuat jika suami pun enggan berhubungan seks, meski sebernarnya karena ia tak tega atau khawatir melukai Anda dan janin.

Efek terhadap hubungan seksual:

  • Frekuensi bercinta tidak sesering trimester kedua. Hubungan seks lebih untuk menjaga kedekatan emosional daripada rekreasi fisik dan saat bercinta, ibu merasa ada janin “mengawasi.”
  • Setiap orgasme, ibu kuatir terjadi kontraksi, padahal mungkin hanya kram.

Hal penting yang harus diperhatikan oleh pasangan, adalah selalu ‘aware’ dengan kondisi ibu pada saat dan setelah hubungan seks dilakukan. Selalu komunikasikan dengan dokter jika terjadi hal-hal yang menyebabkan ibu kesakitan, pendarahan, dll.

Sumber: Ayahbunda.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: