KPLC – Kemang Pregnancy and Lactation Care

Calon Ayah pun Bisa Khawatir

Posted on: Januari 16, 2014

Image

Para calon ayah, pada umumnya akan terlihat tenang dan terkadang protektif ketika menghadapi kehamilan istrinya. Biasanya hal ini terjadi karena mereka berusaha menutupi kekhawatiran, atau bahkan ketakutan-ketakutannya. Berikut ini adalah beberapa ketakutan yang umumnya dihadapi oleh para calon ayah:

a. Kekhawatiran akan rasa aman

Ketakutan terbesar yang paling umum dihadapi oleh para pria, biasanya terbentuk karena faktor budaya, bahwa “apakah saya mampu untuk melindungi dan menafkahi keluarga saya?”. Pada pasangan yang baru saja mendapatkan momongan, terdapat perubahan-perubahan mendadak yang biasanya menjadi ‘beban’ tersendiri bagi calon ayah. Mereka umumnya mengkhawatirkan cukup atau tidaknya pendapatan mereka untuk memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Selain itu, mereka merasa bahwa mereka harus selalu siap, tenang dan ada ketika para istri mengalami perubahan emosi.

b. Kekhawatiran Ketika Menghadapi Persalinan

Lebih dari 80% calon ayah, merasa khawatir akan kesiapan mental mereka ketika mendampingi istrinya bersalin. Seperti, merasa mual atau bahkan pingsan ketika melihat darah persalinan. Hal ini, biasanya ‘tertanam’ karena sugesti yang diciptakan dari film dan cerita turun temurun lainnya. Padahal, komentar yang umumnya terlontar ketika para ayah keluar dari ruang persalinan adalah mengenai kondisi istri dan bayinya, serta jenis kelamin bayinya. Namun, di beberapa kasus, tidak dapat dipungkiri bahwa ada calon ayah yang memang phobia ketika melihat darah. Jika memang memiliki phobia tersebut, disarankan untuk tidak memaksakan diri mendampingi istri bersalin.

Image

c. Kekhawatiran Akan Kehilangan Pasangan dan Anak

Tidak dapat dipungkiri, bahwa persalinan adalah moment istimewa dan juga menegangkan. Kematian ibu dan/atau anak bisa terjadi pada saat persalinan. Hal ini, ternyata ‘membayangi’ ketenangan para calon ayah.

d. Khawatir Kehilangan Perhatian

Beberapa pria khawatir bahwa pasangan mereka akan lebih mencintai bayinya melebihi apapun – dan menyingkirkan Si Ayah.  Untuk mengatasi kekhawatiran ini, ada baiknya suami meminta istri untuk menikmati waktu ‘Me-time’nya dan meninggalkan bayi berdua saja dengan ayahnya.

Image

Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi pada calon ayah. Namun, untuk mengatasinya, penting bagi pasangan untuk ingat bahwa masing-masing orang tua mempunyai perannya sendiri, dan kekuatan peran masing-masing saling mengisi kekurangan satu sama lain. Misalnya, anak akan mencari rasa nyaman, aman, dan kehangatan pada ibunya – sementara anak akan cenderung mencari ayahnya untuk kebutuhan yang membangun rasa mandiri, kebebasan dan masalah duniawi.

Sumber: babycenter.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: